.arrow { font-size: 18px; font-family: serif; font-weight: 900; } .readmore-link { margin-top: 20px; border-bottom: 1px solid gainsboro; margin-left: 250px; }
SELAMAT DATANG DI BLOG HOLONG MARINA COMPUTER/ INANG GROUP CORPORATION

RAJA MAKALAH

RAJA MAKALAH

Kamis, 01 Desember 2016

Wawasan Ayat Al-Qur’an Tentang Organisasi Kurikulum PAI



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Tugas makalah kami dengan tepat waktu. Berikut ini penulis mempersembahkan makalah dengan judul “Wawasan Ayat Al-Qur’an Tentang Organisasi Kurikulum PAI”, yang semoga dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk menambah ilmu khususnya dalam bidang sistem informasi manajemen.
Melalui kata pengantar ini penulis ingin meminta maaf apabila terdapat kekurangan dalam isi makalah maupun dari segi penulisan. Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat. Amiin.
.

Padangsidimpuan,   Desember 2016

Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ ........... i
DAFTAR ISI............................................................................................................ ........... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ ........... 1
A.    Latar Belakang ....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... ........... 2
A.    Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam.......................................... ........... 2
B.     Pola Organisasi Kurikulum Pendidikan Islam.................................. ........... 2
BAB III PENUTUP ............................................................................................................. 11
A.    Kesimpulan ............................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap kegiatan ilmiah memerlukan suatu perencanaan dan organisasi yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian pula dalam pendidikan, diperlukan adanya program yang terencana dan dapat menghantar proses pendidikan sampai pada tujuan yang diinginkan. Proses, pelaksanaan, sampai penilaian dalam pendidikan lebih dikenal dengan istilah “kurikulum pendidikan”.
Komponen kurikulum dalam pendidikan sangat berarti, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok pendidikan,dan kurikulum sendiri juga merupakan sistem yang mempunyai komponen komponen tertentu. Komponen kurikulum tersebut paling tidak mencakup tujuan, struktur program, strategi pelaksanaan yang menyangkut sistem penyajian pelajaran, penilaian hasil belajar, bimbingan-penyuluhan, administrasi, dan supervisi pendidikan. Namun, komponen-komponen tersebut belum memadai sebagai komponen kurikulum pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kurikulum Pendidikan Islam
Pengertian kurikulum pendidikan agama Islam sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum secara umum, perbedaan hanya terletak pada sumber pelajarannya saja. Sebagaimana yang diutarakan oleh Abdul Majid dalam bukunya Pembelajaran Agama islam Berbasis Kompetensi, mengatakan bahwa kurikulum Pendidikan Agama Islam adalah rumusan tentang tujuan, materi, metode dan evaluasi pendidikan dan evaluasi pendidikan yang bersumber pada ajaran agama Islam.[1]
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mcengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.[2]
Menurut Zakiyah Daradjat pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh.[3]
Pengertian kurikulum dalam pandangan modern merupakan program pendidikan yang disediakan oleh sekolah yang tidak hanya sebatas bidang studi dan kegiatan belajarnya saja, akan tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan sehingga dapat meningkatkan mutu kehidupannya yang pelaksanaannya tidak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah.

B.     Pola Organisasi Kurikulum Pendidikan Islam
Organisasi kurikulum merupakan pola atau bentuk bahan pelajaran yang disusun dan disampaikan kepada peserta didik, atau struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pendidikan atau pengajaran yang hendak disampaikan kepada peserta didik guna tercapainya tujuan pendidikan atau pengajaran yang hendak dicapai.[4]
Menurut S. Nasution, untuk menentukan materi pelajaran dalam pengembangan kurikulum, pada hakikatnya ada tiga sumber yaitu:
1)      Masyarakat dan kebutuhannya
2)      Anak dengan minat serta kebutuhannya; dan
3)      Pengetahuan yang telah dikumpulkan oleh umat manusia sebagai hasl pengalamannya dan telah disusun secara sistematis oleh para ilmuwan dalam sejumlah disiplin ilmu.[5]
Menurut S. Nasution (1989: 80) organisasi kurikulum terdapat tiga tipe atau bentuk kurikulum, yaitu :
1.            Separated Subject Curriculum (Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran)
Kurikulum ini disebut demikian karena segala bahan pelajarn disajikan dalam subject atau mata pelajaran yang terpisah-pisah. Sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya. Jumlah mata pelajaran yang diberikan cukup bervariasi bergantung pada tingkat dan jenis sekolah yang bersangkutan. Dalam praktek penyampaian pengajarannya, tanggung jawab terletak pada masing-masing guru atau pendidik yang menangani suatu mata pelajaran yang dipegangnya.
Kurikulum ini sejak lama diterapkan pada sekolah-sekolah kita, sampai dengan munculnya kurikulum tahun 1968 dan kurikulum tahun 1975. Kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a.                   Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain, dan masing-masing berdiri sendiri
b.                  Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan dalam kotak tersendiridan diberikan dalam waktu tertentu
c.                   Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek tingkah laku lainnya
d.                  Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat, dan masalah yang dihadapai para siswa
e.                   Bentuk kurikulum yang tidak mempertimbangkan kebutuhan, masalah, dan tututan dalam masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang
f.                    Pendekatan metodologi mengajar yang digunakan adalah sistem penuangan (imposisi) dan menciptakan perbedaan individual di kalangan para siswa
g.                  Guru berperan aktif, dengan pelaksaan sistem guru mata pelajaran dan mengabaikan unsur belajar aktif di kalangan para siswa
h.                  Para siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum secara kooperatif
2.            Correlated Curriculum (Kurikulum Gabungan)
Correlated curriculum adalah bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, Tetapi tetap memperhatikan karakteristik tiap mata pelajaran tersebut.
Ciri-ciri kurikulum ini di antaranya adalah sebagai berikut :[6]
a.              Berbagai mata pelajaran di korelasikan satu dengan yang lainnya
b.             Sudah dimulai dengan adanya usaha untuk merelevansikan pelajaran dengan permasalaham kehidupan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan pengetahuan
c.              Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemapuan para siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas
d.             Metode penyampaian menggunakan metode korelasi, meski masih banyak yang menghadapi kesulitan
e.              Meski guru masih memegang peran penting, namun aktivitas siswa sudah mulai dikembangkan
Organisasi kurikulum yang disusun dalam bentuk correlated mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan.
3.            Integrated Curriculum (Kurikulum Terpadu)[7]
Dalam integrated curriculum mata pelajaran dipusatkan pada suatu masalah atau unit tertentu. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran diharapkan dapat terbentuk kebulatan pribadi peserta didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, hal-hal yang diajarkan di sekolah harus disesuaikan dengan situasi, masalah dan kebutuhan kehidupan di luar sekolah.
Ciri-ciri umum dari kurikulum studi adalah sebagai berikut :
a.      Kurikulum terdiri atas suatu bidang pengajaran, yang di dalamnya terpadu sejumlah mata pelajaran sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama
b.      Pelajaran bertitik tolak dari core subject, yang kemudian diuraikan menjadi sejumlah pokok bahasan
c.       Berdasarkan tujuan kurikuler dan tujuan instruktusional yang telah digariskan
d.     Sistem penyampaian bersifat terpadu
e.      Guru berperan selaku guru bidang studi
f.        Minat, masalah, serta kebutuhan siwa dan masyarakat dipertimbangkan sebagai dasr penyusunan kurikulum, walaupun masih dalam batas-batas tertentu
g.      Dikenalkan berbagai jenis bidang studi.[8]

C.    Pola Pengembangan Organisasi Pendidikan Islam Berdasar Al-Qur’an
Dalam konteks pendidikan islam yang universal selain ilmu yang terkait dengan ketauhidan dan peribadatan, ada jenis ilmu yang seharusnya dikaji oleh umat Islam yaitu, ilmu-ilmu  tentang jagad raya ini yang bisa diobservasi, yaitu ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora. Ilmu-ilmu alam terdiri atas  fisika, biologi, kimia dan matematika. Ilmu sosial meliputi ilmu sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi. Sedangkan humaniora adalah filsafat, bahasa dan satra dan seni.
Filosof-filosof Islam sepakat bahwa pendidikan akhlaq adalah jiwa dari materi pendidikan islam. Sebab tujuan pertama dan termulia pendidikan islam adalah menghaluskan akhlaq dan mendidik jiwa.[9] Materi pendidikan harus mengacu kepada tujuan, bukan sebaliknya tujuan mengarah pada suatu materi, oleh karenanya materi pendidikan tidak boleh berdiri sendiri terlepas dari kontrol tujuannya[10].
Klasifikasi materi pendidikan islam adalah :
1.      Pengajaran tradisional (materi pengajaran agama).
2.      Bidang ilmu pengetahuan, yang meliputi Sosiologi, Psikologi, sejarah dan lain-lain. Dalam pandangan Al-Faruqi disebut “Ummatic Sciences” atau terminology Qur’an disebut “Al-Ulumul Insaniyyah”.
3.      Sub bidang ilmu pengetahuan alam, dikenal dengan “Al-Ulumul Kauniyyah” yang meliputi astronomi, biologi, botani dan lain-lain.[11]
Mereka semua ( Al-Kindi, Al-Farobi, Ibnu sina, Al-Ghozali, Nashirudin al-Thusi, Mulla Sadra) sepakat membagi ilmu-ilmu filosofis ke dalam ilmu-ilmu teoritis (nadzoriyyat) dan ilmu-ilmu praktis (amaliyyat). Kemudian ilmu-ilmu teoritis dibagi lagi ke dalam kelompok besar : ilmu metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu alam[12]. Penggolongan dalam 2 kelompok materi ilmu oleh para filosof muslim diatas sebenarnya mengadopsi dari filosof sebelumnya yaitu Aristoteles, sehingga klasifikasi materi pendidikan islam itu bermadzhab Aristotelian, tentunya sesudah islamisasi science sesuai dengan kaidah syariah dan kultur masyarakat muslim saat itu. Al-Farobi misalnya, membuat perubahan sedikit, sedang Ibnu Sina lebih banyak. Al-Ghozali bukan hanya mengadakan perubahan, tapi membentuk pengelompokan yang sama sekali lain dari klasifikasi Aristoteles, terutama klasifikasi yang dibuatnya setelah mengalami krisis dan memilih jalan tasawuf.[13]
Secara umum, sistematika dan materi dalam kurikulum pendidikan islam harus meliputi ilmu-ilmu bahasa dan agama, ilmu-ilmu kealaman (natural) serta derivatnya yang membantu ilmu pokoknya seperti : sejarah, geografi, sastera, syair, nahwu, balaghoh, filsafat dan logika. Materi / mata pelajaran untuk tingkat rendah adalah Al-qur’an dan agama, membaca, menulis dan syair. Dalam beberapa kasus lain ditambahkan nahwu, cerita dan berenang (unsur materi jasmaniah), namun titik tekannya pada membaca Al-Qur’an dan mengajarkan prinsip-prinsip pokok agama. Khusus materi tingkat dasar bagi peserta didik dari anak para amir / penguasa agak berbeda sedikit, yaitu ditegaskan pentingnya pengajran khitobah, ilmu sejarah, cerita epic (perang), cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti Al-qur’an, syair dan fiqih.[14]
Semua jenis ilmu itu mestinya dipelajari oleh umat Islam dalam arah baru pendidikan islam secara mendalam sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Ilmu tersebut dipelajari untuk mengantarkannya pada ketauhidan dan kesempurnaan ibadah. Setelah mempelajari fisika, biologi, psikologi, sejarah dan lain-lain, seseorang akan mengakui dan menyebut atas kebesaran dan ke-Maha Suci-an Allah swt., dengan bertasbih, bertahmid dan bertahlil.
Pendidikan Islam yang berfalsafah al-Qur’an sebagai sumber utamanya, menjadikan al-Qur’an sebagai sumber utama penyusunan kurikulumnya.
Muhammad Fadhil al-Jamili mengemukakan bahwa al-Qur’an al-Karim adalah kitab terbesar yang menjadi sumber filsafat pendidikan dan pengajaran bagi umat Islam. Sudah seharusnya kurikulum pendidikan Islam disusun sesuai dengan al-Qur’an dan ditambah dengan al-Hadits yang melengkapinya.
Di dalam al-Qur’an dan Hadits ditemukan kerangka dasar dan dapat dijadikan sebagai pedoman dan penyusunan kurikulum pendidikan Islam. Kerangka dasar tersebut adalah sebagai berikut :[15]
1.           Sesuai dengan al-Qur’an bahwa yang menjadi kurikulum ini (intra curiculer) pendidikan Islam adalah “Tauhid” dan harus dimantapkan sebagai unsur pokok yang tidak dapat dirubah. Pemantapan kalimat tauhid sudah dimulai semenjak bayi dilahirkan dengan memperdengarkan adzan dan iqomah terhadap bayi yang dilahirkan.
2.           Kurikulum inti (Intra Curiculer) selanjutnya adalah perintah ‘Membaca’ ayat-ayat Allah yang meliputi 3 macam ayat yaitu : (1) ayat Allah yang berdasarkan wahyu. (2) ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan (3) ayat Allah yang terdapat di dalam alam semesta di luar diri manusia.
Firman Allah SWT:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  

Artinya : “Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang maha Pemurah yang mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. al-Alaq : 1-5).
Ditinjau dari segi kurikulum sebenarnya firman Allah SWT itu merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh Ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia.[16] Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikiran (reasoning), daya cipta (creativity),[17] juga sekaligus merupakan bahan pendidikan itu sendiri. Mungkin taka ada satu kurikulum pendidikan di dunia ini yang tidak mencantumkan membaca sebagai materinya, bahkan umumnya membaca ini ditempatkan dari sekolah dasar, perguruan tinggi dengan berbagai variasi.
Kelima ayat tersebut pada dasarnya telah mencakup kerangka kurikulum pendidikan Islam yang wajib dijabarkan sebagai berikut :
1.             Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Tekanan yang terkandung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca yang dihubungkan dengan nama Tuhan sebagai Pencipta. Hal ini erat hubungannya dengan ilmu naqli (perennial knowledge).
2.             Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Ayat tersebut mendorong manusia untuk mengintropeksi menyelidiki tentang dirinya dimulai dari proses kejadian dirinya. Manusia ditantang dan dirangsang untuk mengungkapkan hal itu mulai imaginasi maupun pengalamannya (acquired knowledge).
3.             Bacalah! Dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Motifasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia terdorong untuk mengadakan eksplorasi alam dan sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya.[18]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Organisasi kurikulum merupakan hal yang terpenting dalam mencapai tujuan pendidikan, oleh sebab itu pengorganisasian dalam kurikulum sangat diperlukan dan diharuskan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Melalui organisasi kurikulum ini, guru dan pengelola pendidikan akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan program pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, penyajian materi, serta peran guru dan murid dalam  rangkaian pembelajaran. Cara pengembangan  kurikulum mengorganisasikan kurikulum akan berkaitan pula dengan bentuk atau model kurikulum yang dianutnya.
Karena kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Jadi, komponen kurikulum merupakan bagian-bagian atau unsur-unsur kurikulum yang telah direncanakan untuk mencapai  tujuan pendidikan tertentu
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Komponen-komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain.



DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid, dan Dian Andayani, 2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Remaja Rosda Karya, Bandung.
Abdullah, Abdurrahman Saleh. 2007. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Langgulung, Hasan. 2008. Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al-Husna Baru, Jakarta.
Ma’arif, Syamsul. 2007. Revitalisasi Pendidikan Islam, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Joko, Susilo, Muhammad, 2010 Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran. Jakarta:Liberty.
Muslihah, Eneng, 2010. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Diadit Media.
Sanjaya, Wina, 2011, Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Kencana Pradana Group.
Rabamo, Ahmad, 2003. Pengembangan dan inovesi Kurikulum, (Yogyakarta : Azza Grafika.
Asfiati, 2009. Manajemen Pembelajaran PAI, Bandung:Pustaka:Media.



[1] Abdul Majid, dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. (Remaja Rosda Karya, Bandung, 2006), hal. 74
[2] Ibid., hal.130
[3] Ibid. hal.130
[4] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta:Kencana Pradana Group, 2011), Hal. 76
[5] M.Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta:Bumi Aksara,2009), hlm.258
[6] Ahmad Rabamo, Pengembangan dan inovesi Kurikulum, (Yogyakarta : Azza Grafika, 2003), hal. 102
[7] Wina Sanjaya, Op. Cit., hal. 89
[8] S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, (jakarta: Bumi aksara,2011),hlm.176-180
[9] Hasan Langgulung,. Asas-Asas Pendidikan Islam, (Pustaka Al-Husna Baru: Jakarta, 2008), hal. 113
[10] Saleh  Abdurrahman Abdullah, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2007), hal. 159
[11] Ibid., hal. 161-162
[12] Syamsul Ma’arif,. Revitalisasi Pendidikan Islam, (Graha Ilmu: Yogyakarta, 2007.), hal. 25
[13] Hasan Langgulung, Op. Cit., hal. 134
[14] Hasan langgulung, Op. Cit., hal. 114
[15] Asfiati, Manajemen Pembelajaran PAI, (Bandung:Pustaka:Media, 2009), hal. 46
[16] Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Diadit Media, 2010), hal. 79.
[17] Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Pustaka al-Husna), hal. 166
[18] Eneng Muslihah, Ilmu Pendidikan Islam, Op-Cit, hal. 80-81.
 

1 komentar: