.arrow { font-size: 18px; font-family: serif; font-weight: 900; } .readmore-link { margin-top: 20px; border-bottom: 1px solid gainsboro; margin-left: 250px; }
SELAMAT DATANG DI BLOG HOLONG MARINA COMPUTER/ INANG GROUP CORPORATION

RAJA MAKALAH

RAJA MAKALAH

Selasa, 06 Desember 2016

METODE PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI TAREH





METODE PENGAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MATERI TAREH

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
NAMA             : MAWARDI DALIMUNTHE
NIM                  : 1420100049

DOSEN PENGAMPU
Drs. SAMSUDDIN, M.Ag
NIP. 19640203 199403 1 001


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PADANGSIDIMPUAN
TAHUN 2016


 

KATA PENGANTAR

Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa IAIN Padangsidimpuan. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

                                                                        Padangsidimpuan,   Desember 2016



                                                          Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.    Latar Belakang .................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 2
A.    Pengertian Tarekh.............................................................................. 2
B.     Sumber-sumber Pengajaran Sirah atau Tarikhul Islam....................... 3
C.     Langkah-langkah atau Metode-metode Mengajar Sejarah................ 5
D.    Contoh Persiapan Mengajar Sejarah.................................................. 7
BAB III PENUTUP...................................................................................... 10
A.    Kesimpulan........................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 11





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan islam merupakan warisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman ajaran islam dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut islam. Munculnya ilmu pendidikan telah memotivasi umat islam untuk menelusuri perjalanan sejarah pendidikan islam. Teori-teori yang berkaitan dalam dunia pendidikan besar gunanya dalam mengumpulkan fakta-fakta sejarah yang selanjutnya menempatkan fakta-fakta tersebut dalam konteks sejarahnya dengan demikian pembahasan sejarah pendidikan tidak sekedar menempatkan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan perkembangan dan perjalanan pendidikan islam sesuai dengan urutan-urutan peristiwa.
Lebih dari itu sejarah pendidikan islam menuntut pengungkapan realitas sosial muslim untuk menjawab suatu peristiwa yang terjadi.Dengan demikian sejarah pendidikan islam bukanlah ilmu berdiri sendiri namun merupakan bagian dari sejarah pendidikan secara umum. Sejarah pendidikan merupakan uraian sistematis dari segala sesuatu yang telah dipikirkan dan dikerjakan dalam lapangan pendidikan pada waktu yang telah lampau. Sejarah pendidikan menguraikan perkembangan pendidikan dari dahulu hingga sekarang.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tarekh
Secara etimologi, tarikh adalah mengetahui waktu atau masa, sedangkan menurut peninjauan terminology adalah mengetahui waktu guna meneliti terjadinya peristiwa penting. Adapun definisi Ilmu Tarikh adalah mengetahui jejak-jejak  peradaban suatu  bangsa, kondisi suatu Negara, kebudayaan, peninggalan-peningalan masa lampau, dan lain sebagainya.[1]
Ruang pembahasan ilmu sejarah adalah hal-hal yang terkait dengan pelaku sejarah (manusia) dan zaman berlangsungnya sejarah. Seorang sosiolog sekaligus sejarawan terkemuka, Ibnu Khaldun berkata, "Sejarah merupakan bagian dari seni yang dikaji banyak ras dan suku bangsa, sebagai ilmu pengetahuan bagi para raja dan pemimpin, serta menjadi pedoman bagi para musafir dan imigran." Bagian luar sejarah memberikan informasi tentang peradaban  manusia sejak abad pertama hingga abad-abad selanjutnya, sedangkan bagian dalamnya mengandung berbagai macam pemikiran serta analisa yang mendalam.
Ilmu Tarikh merupakan ilmu yang mulia. Dengan mempelajarinya banyak faedah yang dapat diperoleh. Di antaranya adalah agar dapat memetik pelajaran dan nasehat dari kehidupan umat-umat terdahulu, sebagai cermin dalam menentukan posisi di kehidupan sekarang, sebagai acuan atau landasan dalam memberikan kebijaksanaan, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui sejarah masa lampau seseorang dapat menentukan sikap pada masa yang akan datang.
Yang menjadi sasaran Ilmu Tarikh adalah kepribadian manusia, sifat-sifatnya, sikap, dan karakternya. Seseorang bisa dikatakan telah mengenal dirinya bila mengetahui sesuatu yang bisa dilakukannya. Dia juga akan dianggap mengetahui yang bisa dilakukan bila mengetahui kemampuannya. Kemampuan itu merupakan potensi yang bisa diwujudkan menjadi kenyataan. Dengan demikian pengetahuan terhadap sejarah memberikan dampak positif yang sangat besar bagi perkembangan diri manusia ke depan.

B.     Sumber-sumber Pengajaran Sirah atau Tarikhul Islam
Secara umum dapat disebutkan di sini bahwa sumber dan rujukan Sirah Nabawiyah ada tiga: Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabawiyah yang shahih, dan kitab-kitab sirah.
a.       Al Quran[2]
Kitab Allah merupakan rujukan pertama untuk memahami sifat-sifat umum Rasulullah saw. dan mengenal tahapan-tahapan umum sirah-nya yang mulia ini. Ia mengemukakan Sirah Nabawiyah dengan menggunakan salah satu dari uslub (metode) berikut. Pertama, mengemukakan sebagian kejadian dari kehidupan dan sirah-nya, seperti ayat-ayat yang menjelaskan tentang Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan Hunain, serta ayat-ayat yang mengisahkan perkawinan dengan Zainab binti Jahsyi. Kedua, mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah-masalah yang timbul, mengungkapkan masalah yang belum jelas, atau untuk menarik perhatian kaum Muslimin kepada pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Semua itu berkaitan dengan salah satu aspek dari sirah-nya atau permasalahannya. Dengan demikian, hal itu telah menjelaskan banyak hal dari berbagai periode kehidupannya dan beragam urusan serta aktivitasnya.
Akan tetapi, pembicaraan Al-Qur’an semua itu hanya disampaikan secara terputus-putus. Betapapun beragamnya uslub Al-Qur’an dalam menjelaskan segi sirah-nya, hal itu tidak lebih dari sekedar penjelasan secara umum dan penyajian secara global dan sekilas tentang beberapa peristiwa dan berita. Demikianlah cara Al-Qur’an dalam menyajikan setiap kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu.
b.      As Sunnah Ash Shahihah[3]
Yakni apa yang terkandung di dalam kitab-kitab para imam hadits yang terkenal jujur dan amanah, seperti kitab-kitab yang enam, Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Sumber kedua ini lebih luas dan lebih rinci, hanya saja belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran kehidupan Rasulullah saw. sejak lahir hingga wafat. Hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, sebagian besar kitab-kitab ini disusun haditsnya berdasarkan bab-bab fiqih atau sesuai dengan satuan pembahasan yang terkait dengan syariat Islam. Karena itu, hadits-hadits yang berkaitan dengan sirah-nya yang menjelaskan bagian dari kehidupannya terdapat pada berbagai tempat di antara semua bab yang ada. Kedua, para imam hadits, khususnya penghimpun Al-Kutub As-Sittah, ketika menghimpun hadits-hadits Rasulullah saw. tidak mencatat riwayat sirah-nya secara terpisah, tetapi hanya mencatat dali-dalil syariah secara umum yang diperlukan.
Di antara keistimewaan sumber kedua ini ialah bahwa sebagaian besar isinya diriwayatkan dengan sanad shahih yang bersambung kepada Rasulullah saw atau kepada para sahabat, yang kemudian diteruskan periwayatannya oleh para ulama hadits.
c.       Kitab-kitab Sirah[4]
Kajian-kajian sirah di masa lalu diambil dari riwayat-riwayat pada masa sahabat yang disampaikan secara turun-temurun tanpa ada yang memperhatikan untuk menyusun atau menghimpunnya dalam suatu kitab, kendatipun sudah ada beberapa orang yang memperhatikan secara khusus sirah Nabi saw dengan rincian-rinciannya. Barulah pada generasi tabi’in, sirah Rasulullah saw diterima dengan perhatian penuh perhatian. Banyak di antara mereka yang mulai menyusun data tentang Sirah Nabawiyah yang didapatkan dari lembaran-lembaran kertas. Di antara mereka ialah Urwah bin Zubair yang meninggal pada tahun 92 Hijriah, Aban bin Utsman (105 H), Syurahbil bin Sa’ad (123 H), Wahab bin Munabih (110 H), dan Ibnu Syihab Az-Zuhri (124 H). Setelah itu, muncul generasi penyusun sirah berikutnya. Tokoh generasi ini ialah Muhammad bin Ishaq (152 H). Selanjutnya disusul oleh generasi sesudahnya dengan tokoh Al-Waqidi (203 H) dan Muhammad bin Sa’ad, penyusun kitab Ath-Thaqat Al-Kubra (130 H). Ada pula kitab Sirah Nabawiyah yang dinisbatkan kepada Ibnu Hisyam, yang ada sekarang ini hanya merupakan duplikat dari Al-Maghazi-nya Ibnu Ishaq.
Ibnu Khalikan berkata, “Ibnu Hisyam adalah orang yang menghimpun sirah Rasulullah saw. dari Al-Maghazi dan As-Siar karangan Ibnu Ishaq. Ia telah menyempurnakan dan meringkasnya. Kitab inilah yang ada sekarang dan terkenal dengan Sirah Ibnu Hisyam.
Selanjutnya, lahirlah kitab-kitab Sirah Nabawiyah. Sebagiannya menyajikan secara menyeluruh, tetapi ada pula yang memperhatikan segi-segi tertentu, seprti Al-Asfahani di dalam kitabnya Dala’il An-Nubuwah, Tirmidzi di dalam kitabnya Asy-Syama’il, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitabnya Zaadul Ma’ad.

C.    Langkah-langkah atau Metode-metode Mengajar Sejarah
Sejarah biasanya ditulis dan dikaji dalam sudut pandangan suatu fakta atau kejadian tentang peradaban bangsa, maka obyek sejarah pendidikan mencangkup fakta fakta yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam baik informal, formal maupun non formal. Sedangkan Mengenai metode sejarah pendidikan islam, walaupun terdapat hal-hal yang sifatnya khusus, akan tetapi berlaku kaidah-kaidah yang ada dalam penulisan sejarah. Kebiasaan daripada penelitian dan penulisan sejarah meliputi suatu perpaduan khusus keterampilan intelektual.
Sejarawan harus menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sebenarnya, dan perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi tersebut kedalam kisah yang penuh makna, sebagai seorang ahli, sejarahwan harus mempunyai sesuatu kerangka berpikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya.[5]
Untuk memahami sejarah pendidikan islam diperlukan suatu pendekatan atau metode yang bisa ditempuh adalah keterpaduan antara metode deskriptif, metode komparatif dan metode analisis sistensis.
·        Metode deskriptif
·        Metode komparatif
·        Metode analisis sintesis.[6]
Selain metode diatasa ada juga beberapa metode yang dapat dipakai diantaranya:
·                   Metode Lisan dengan metode ini pelacakan suatu obyek sejarah dengan menggunakan interview.
·                   Metode Observasi dalam hal ini obyek sejarah diamati secara langsung.
·                   Metode Documenter dimana dengan metode ini berusaha mempelajari secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis.
Seorang guru dalam mengajar sejarh dapat mengikuti prosedur berikut:[7]
a.            Appersepsi
Guru dapat memberikan appersepsi yang menarik perhatian anak untuk mendengar cerita. Misalnya guru menggunakan metode tanya jawab.
b.            Penyajian
Guru dalam menyajikan sejarah hendaknya menggunakan gaya bahasa cerita, dimana ia harus memperhatikan hal-hal berikut:
1)            Hendaknya guru menggunakan bahasa yang menarik.
2)            Penyajian sejarah hendaknya secara periodesasi dimana setiap periode itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dan diselingi dengan pertanyaan-pertanyaan untukmemantapkan isi pokok dari masing-masing periode.
3)            Menulis judul periode pada papan tulis sebelum atau ssudah penyajian.
4)            Menulis nama-nama tokoh yang berperan dalam ceritayang diuraikan,agar nama-nama tersebut menjadi ingatan pelajar dan memudahkan mereka mengingatnya.
5)            Dalam penyajian guru harus memperhatikan usaha mengkongkritkan pengertian melalui aneka mimik dan pantomimik agar tergugah perasaan siswa untuk mencintai dan meneladani tokoh pemeran sejarah berikut.
c.            Korelasi
Menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah dengan realitas hidup sekarang dan topik-topik pendidikan agama yang lain ataupun dengan bidang studi lainnya bila ada kesempatan.
d.           Kesimpulan
Guru menyuruh agar siswa mengulan cerita dan menanyakan kepada mereka peristiwa-peristiwa periode demi periode. Setelah itu guru mencatat di papan tulis pokok kesimpulan sebagai akhtisar.
e.            Evaluasi
Guru mengadakan diskusi dengan siswa semua materi yang barudiberikan unntuk mengetahui sampai dimana mereka dapat menguasai atau dapat juga mereka disuruh untuk menulis bgian-bagian yang mengandung nilai moral,atau mendramatisasikan dalam lokal atau di pentas yang tersedia, atau menyruh siswa melukiskan perasaan mereka terhadap tokoh sejarah dan sejauh mana mereka terpengaruh dengan kepribadian dan tingkah laku tokoh tersebut.

D.    Contoh Persiapan Mengajar Sejarah
Hijrah
Tanggal                       :
Kelas                           :
Jam Pelajaran              :
Satuan Pelajaran          :
Urain                           :
Tujuan mempelajari sejarah mengenai hijrah nabi adalah:
1.            Membantu siswa menyerap pengetahuan-pengatahuan sebagai berikut:
a.  Meningkatkan ancaman orang-orang kafir terhadap Rasul dan orang-orang muslim dan tuntutan hijrah.
b.  Tibanya Rasul dan pengikut-pengikutnya di Madinah.
c.  Upacara panyambutan meriah kedatangan Rasul dan sahabat-sahabatnya serta kegembiraan penduduk Madinah.
d. Pembangunan Masjid Nabawi yang kemudian menjadi tempat peristirahatan beliau yang terakhir.
2.            Membantu anak didik untuk menyerap nilai-nilai dan contoh teladan drikut:
a.                  Murid-murid meyakini bahwa wilayah Islam itu adalah suatu kesatuan yang utuh.
b.                 Menyanadari bahawa umat Islam merupakan satu keluarga besar yang saling mengikat.
c.                  Umat Islam wajib menunaikan janji kepada Allah SWT. Serta memiliki iman yang tangguh, walau bagaimanapun ancaman dan penganiayaan yang dihadapi.
d.                 Berani melakukan hijrah bila terpaksa demi meninggalkan kebenaran.
3.            Bermacam-macam kegiatan dapat diharapkan dari judul ini:
a.       Menyiapkan peta perjalanan dari Mekkah ke Madinah.
b.      Membuat gambar gua Tsur (Hiro’) yang di pintunya sarang laba-laba dan sepasang burung merpati yang berisi telurnya.
c.       Membuat gambar penduduk Madinah yang sedan menyambut Rasulullah Saw.
d.      Menyiapkan gambar berwarna untuk oran-orang Islam yang sedang shalat bejama’ah setelah mereka menganut ajaran agama Islam.
Appersepsi
Barankali guru lebih baik menyuruh siswa membaca judul tersebut yang trdapat dalam buku Al-Tarbiyah Al-Islamiyah sebelum dipelajari di dalam kelas.
Untuk persepsi ini guru dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1)            Mengapa Rasulullah berhijrah ke Madinah?
2)            Siapakah teman beliau dalam hijrah tersebut?
3)            Bagaimanakah sambutan orang-orang Madinah terhadap kedatangan beliau?
4)            Di lokasi manakah Rasulullah mendirikan Masjidnya?
Penyajian
Guru menyajikan cerita kepada murid dengan menggunakn buku pelajaran yang biasa guru pegang sesui materi dan kurikulum yang ada.
Dalam menentukan metode pengajaran seorang guru tidak boleh gegabah dalam penetapan metode yang akan digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:[8]
1.      Tujuan yang hendak dicapai
Guru haruslah mengetahui dengan jelas tujuan yang hendak dicapainya, supaya metode dan media pendujungnya bias digunakan secara optimal dan maksimal.
2.      Audiens (siswa)
Seorang guru hendaknya memperhatikan Audiens (siswa) terlebih dahulu sebelum menentukan metode yang akan digunakan, karna jumlah dan karakter siswa,sangat berpengaruh pada umpan balik dan tujuan yang diharapkan seorang guru.
3.      Fasilitas
Fasilitas menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam penetapan metode pengajaran, namun harus kita ingat fasilitas disini tidak hanya berkutat kepada materi semata namun non materi seperti waktu yang diberikan untuk seorang guru dalam menyampaikan materinya.
4.      keunggulan dan kelemahan metode tertentu
tidak ada satu metode yang dapat dikatakan lebih baik karena metode-metode yang ada bias bersifat tidak efektif apabila tidak tercapainya tujuan yang diharapkan atas dasar itulah hendaknya guru memperhatikan beberapa fakto-faktor yang telah di jelaskan di atas


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tareh (sejarah) Pendidikan Islam adalah  peristiwa atau cabang ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam dari segi ide, konsep, lembaga operasionalisasi dari sejak zaman nabi Muhammad saw sampai sekarang atau catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan islam sejak lahirnya hingga sekarang ini .
Lankah-langkah mengajar sejarah:
o   Appersepsi
o   Penyajian.
o   Korelasi
o   Kesimpulan
o   Evaluasi
Untuk media pengajaran sejarah, hendaknya guru menyiapkan bermacam-macam alat peraga dan menggunakannya dimanapun diperlukan.


DAFTAR PUSTAKA
Abyan, Amir, Dkk, 1986. Tarikh Islam, Jakarta: Depag RI.
Yatim, Badri, 1993. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press.
Abdurrahman Dudung, 2002,  Sejarah Peradaban Islam,  Yogyakarta: Lesfi
Nata Abuddin, 2011,  Sejarah Pendidikan Islam,  Jakarta : Kencana
Ramayulis, 2002, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam mulia
Sudiyono, 2009, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta
Yamin Martinis, Maisah, 2012, Orientasi baru Ilmu Pendidikan, Jakarta: Referensi
Zuhairini dkk., 2008, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara




[1] Amir Abyan Dkk, Tarikh Islam, (Jakarta: Depag RI, 1986), hal. 65
[2] Badri Yatim,  Sejarah Peradaban Islam,( Jakarta: Rajawali Press, 1993), hal. 75
[3] Ibid., hal. 76
[4] Ibid., hal. 77
[5] Zuhairini dkk., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,2008), hal. 2-3
[6] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Lesfi, 2002), hal 4
[7] Martinis Yamin Maisah, Orientasi baru Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Referensi, 2012), hal  16
[8] Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Rineka Cipta, 2008), hal 6


                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar