.arrow { font-size: 18px; font-family: serif; font-weight: 900; } .readmore-link { margin-top: 20px; border-bottom: 1px solid gainsboro; margin-left: 250px; }
SELAMAT DATANG DI BLOG HOLONG MARINA COMPUTER/ INANG GROUP CORPORATION

RAJA MAKALAH

RAJA MAKALAH

Rabu, 07 Desember 2016

IMPLEMENTASI METODE KARYA WISATA DAN BERMAIN PERAN DALAM PEMBELAJARAN PAI



IMPLEMENTASI METODE KARYA WISATA DAN BERMAIN PERAN DALAM PEMBELAJARAN PAI








D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
NAMA                              : MAULIDA RAHMI
NIM                                  : 1420100142



Dosen Pengampu:
Drs. SAMSUDDIN, M.Ag

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PADANGSIDIMPUAN
T.A 2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan karunia nikmat bagi umat-Nya. Atas Ridho-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai “Implementasi Metode Pembelajaran Karya Wisata dan Bermain Peran Pada Mata Pelajaran PAI” yang telah kami susun secara sistematis dan materi yang di sajikan kami ambil dari sumber-sumber terpercaya.
Makalah ini tidak akan terwujud, jika tidak ada dorongan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Besar harapan kami makalah ini dapat membantu meningkatkan profesi belajar mahasiswa dan dapat bermanfaat bagi  mahasiswa, khususnya dalam masalah disajikan dalam makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun demi tercapainya makalah yang lebih baik di masa mendatang. Terima kasih.




                                                            Padangsidimpuan,    Desember 2016




                                                            Penulis


DAFTAR ISI

KATAR PENGANTAR .................................................................        i
DAFTAR ISI ...................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................        1
A.    Latar Belakang ......................................................................        1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................        2
A.    Pendidikan Islam Berkarkter .................................................        2
B.     Implementasi Metode Karya Wisata Pada
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ................................        5
C.     Implementasi Bermain Peran dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.................................        11
BAB III PENUTUP ........................................................................        15
A.    Kesimpulan.............................................................................       15
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................        16


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “Methodos” yang berarti cara berani atau cara berjalan yang di tempuh. Menurut Winarno Surakhmad, metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan pengertian pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut Nursid Suaatmadja, metode pembelajaran adalah suatu cara yang fungsinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan .
Menurut S Hamid Hasan, metode pengajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan kesempatan seluas – luasnya kepada siswa dalam belajar.
Dari dua pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa metode pengajaran IPS itu adalah suatu cara yang digunakan oleh guru agar siswa dapat belajar seluas – luasnya dalam rangka mencapai tujuan pengajaran secara efektif. Didalam proses belajar mengajara di perlukan suatu metode yang sesuaidengan situasi dan kondisi yang ada. Metode pembelajaran seharusnya tepat guna yaitu mampu memfunfsikan si anak didik untuk belajar sendiri sesuai dengan Student Active Learning (SAL).




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pendidikan Islam Berkarkter
Pada dasarnya, pendidikan merupakan rangkaian peroses kegiatan yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis, berksinambungan, terpola, dan struktur dalam rangka membentuk suatu sosok manusia yang  berkualitas secara nalar-intelektual  dan moral-spiritual. Jadi, secara esensial merupakan bentuk usaha sadar dalam peroses pematangan dan pendewasaan . Sebagai pendewasaan, pendidikan menurut perubahan dan perkembangan sejalan dengan tuntunan pertumbuhan manusia itu sendiri baik dalam segi fisik mauun psikis untuk dapat memnuhi tuntunan perkembangan zamannya. Pendidikan, dengan demikian, bisa dipahami sebagai tuntunan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan dan kelengkapan fungsi kemanusiaan dalam arti sesungguhya. Disinilah tempat adanya perbedaan mendasar pendidikan dengan pengajaran, dimana yang terakhir dikatakan sebagai peroses teransfer ilmu. Beda lagi dengan pembelajaran yang merupakan peroses menyeting  untuk terjadinya peroses belajar itu sendiri . Sedangkan penekanan pendidikan terletak pada pembentukan kesadaran dan transformasi nilai kepribadian dengan segala aspek yang meligkupinya, disamping  teransfer ilmu dan keahlian. Dengan peroses  seperti itu, suatu masyarakat dapat mewariskan nilai-nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran, dan keahlian, serta sebagai hal lainnya diperlukan kepada generasi mudanya sehingga siap menyongsong kehidupan.
Adapun Pendidikan Islam  pada dasarnya bisa dipandang merupakan upaya penigkatan (trains/pelatihan) kepekaan (sensibility/sensibilitas) jiwa untuk dapat  mewujudkan nilai-nilai islami dalam sikap hidup secara keseluruhan. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang menyeluruh, intgral, dan seimbang yang meliputi seluruh aspek keislaman. Pendidikan Islam berkesinambungan  sejalan dengan kontinuitas kehidupan manusia yang dengan terbentuk masyarakat muslim melalui  pembentukan peribadi-peribadi atas dasar keimanan dan ketaatan. Hal tersebut menggambarkan bangunan ruang lingkup Pendidikan Islam yang mencakup keseluruhan ruang lingkup nilai itu sendiri, yang dapat membentuk aspek-aspek kepriadian muslim. Kepribadian Muslim terdiri dari perpaduan sinergis berbagai kerangka perkembangan, ada aspek fisik, psikis, rasio, sosial, dan lain-lain dalam pase pertumbuhan yang beragam. Setiap kumpulan dan satuan tersebut melaksanakan fungsinya mempengaruhi sisi-sisi perubanahan ke ararah perubahan yang terintegrasi  secara umum dengan peroses pembentukan kepribadian itu sendiri . Aspek-aspek yang diperhatikan Pendidikan dalam al-qur’an adalah aspek jasmani, pemikiran, keyakinan, akhlaq, estetika, sosial, dan lain sebagainya.[1]
Jadi menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Touny al-syaebani, Pendidikan Islam diartikan ‘’sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribdainya atau dalam kehidupan  kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui peroses kependidikannya.’’[2]

B.     Implementasi Metode Karya Wisata Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a.       Pengertian karyawisata
Kata karyawisata berasal dari kata karya dan wisata, karya yang artinya kerja dan wisata yang artinya pergi. Dengan demikian karyawisata berarti pergi bekerja. Didalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, pengertian karya wisata ialah bahwa murid-murid akan mempelajari suatu objek ditempat mana objek itu terdapat. Dengan demikian, apa yang disebut dengan bekerja sebenarnya yang dimaksud  ialah mempelajari sesuatu
Wisata adalah metode pengejaran yang dilakukan dengan mengajak para siswa untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya dengan sesuatu yang dibahas. Metode karya wisata ialah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan membawa murid langsung kepada objek yang dipelajari, dan objek itu terdapat diluar kelas. Dengan demikian, apa yang disebut dengan bekerja sebenarnya yang dimaksud  ialah mempelajari sesuatu.[3]
Karya wisata sering pula disebut dengan nama-nama seperti metode field trip, metode study tour, metode study trip. Sebenarnya apapun nama yang diberikan pada metode ini, yang perlu ialah isi pengertian yang diberikan kepada metode dengan nama seperti karya wisata lebih penting daripada namanya sendiri. Penggunaan suatu metode tertentu pastilah berdasarkan alasan-alasan pertimbangan dimana guru yang bersangkutan harus lebih mengetahuinya.
Pada umumnya alasan menggunakan  metode karya wisata  adalah  karena objek  yang akan dipelajari tidak dapat  dibawa  kedalam  kelas dan hanya dapat dipelajari ditempat dimana objek  itu berada, karena mempunyai sebab-sebab tertentu, antara lain:[4]
1)      Objeknya terlampau besar : misalnya didekat sekolah sedang diadakan perbaikan jalan dimana digunakan sebuah mesin giling. Tentunya mesin giling ini tidak dapat dibawa kedalam  kelas  karena terlampau besar. Walaupun demikian  murid-murid harus mengetahui bagaimana kerja sebuah mesin giling yang tugasnya meratakan jalan yang tekah ditaburi batu-batu dan dilapisi aspal serta pasir  itu, guru membawa murid-murid keluar kelas, ketempat dimana mesin giling itu dipergunakan.
2)      Objeknya terlampau berat, Hal ini sama dengan  yang telah diuraikan dalam  contoh  pertama yaitu  mengenai mesin giling, karena beratnya  tentu saja mesin  giling itu tidak dapat diminta untuk di masukkan  di halaman  sekolah  karena  halaman sekolah tantu akan rusak. Apabila dibawa kedalam kelas  tentu tidak mungkin dikerjakan. Dengan demikian tentunya  lebih  baik  membawa  murid-murid  ke mesin giling tadi dari pada membawa mesin giling itu ke sekolah.
3)      Objeknya akan  mengalami perubahan jika dipindahkan dari tempatnya. Misalnya dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam dimana guru akan memperlihatkan dan mengajarkan tanaman yang  dinamai  putri malu . tanaman ini jika tersentuh sedikit saja maka akan tertutup atau mengatupkan daun-daunnya sehingga tidak dapat lagi dilihat bagaimana tanaman itu sesungguhnya jika daun-daunnya dibuka. Oleh karena itu, agar keasliannya dapat diamati dengan baik, murid-murd harus dibawa ke kebun, tegalan atau lapangan dimana  putri  malu  itu  tumbuh. Guru menggunakan metode karya wisata untuk mengajarkan  tanaman  tersebut.
4)      Objeknya hanya berbahaya jika dibawa ke kelas. Misalnya guru akan  mengajarkan jenis-jenis  binatang  buas. Tentunya  guru  tidak  akan  dapat  membawa  harimau  dan singa ke kelas, karena  seandainya  hal  itu  dapat  dilakukan, tetapi  faktor  keamanannya  tidak  dapat dipertanggung-jawabkan.  Binatang-binatang  itu  terlalu  buas  untuk  dibawa  begitu  saja  ke  tempat-tempat  umum.
b.      Pertimbangan dan penetapan objek karya wisata
Dalam  pertimbangan  dan  penetapan  objek karya wisata  seorang  guru  perlu  alasan-alasan  seperti  isi  bahan  pelajaran  yang  telah atau  belum  tercantum  di dalam kurikulum jika bahan  pelajaran  itu  memang  telah dicantumkan  dalam  kurikulum  untuk diajarkan dan  metode  ini  sebaiknya  dilakukan. Tetapi  seandainya bahan pelajaran itu tidak tercantum  dalam  kurikulum maka dapat digunakan  pertimbangan  dari  segi  didaktik  yaitu  prinsip  lingkungan,  misalnya dimana murid-murid harus mengenal alam  lingkungannya dengan  sebaik-baiknya.
Alasan pertimbangan dan  penetapan objek dapat dipilih  guru  berdasarkan mengajar harus memperhatikan misalnya prinsip keperagaan dan lingkungan untuk menghindarkan timbulnya verbalisme. (mengetahui  kata  akan  tetapi  tidak  mengetahui  isi  pengertian  kata tersebut).
Penetapan  lamanya  karya wisata  harus dipertimbangkan  berdasarkan:
-          Banyaknya  waktu  yang  akan  di  ambil  dari mata pelajaran lainnya tanpa menghambat kemajuan mata-mata pelajaran tersebut dalam keseluruan rencana pembelajaran.
-          Mudah  atau sulitnya bahan yang harus diteliti pada objek tersebut.
-          Mudah  atau  sulitnya transport pergi dan  pulang.
-          Luas  atau  sempitnya, banyak  atau  sedikitnya  bahan  yang  harus  diteliti  pada  objek  yang  akan di kunjungi.
-          Jauh atau  dekatnya letak objek  yang akan di pelajari.
a)      Penetapan teknik-teknik untuk mempelajari objek.
Sebelum melakukan teknik karya wisata, perlu menetapkan cara-cara meneliti atau mempelajari obyek yang akan dikunjungi. Teknik-tekniknya antara lain ialah:
-          Observasi.
Meneliti  atau  mempelajari  suatu objek  melalalui observasi merupakan tahapan yang paling penting  dalam keseluruhan proses belajar selama suatu karya wisata dilakukan. Teknik observasi  merupakn cara pemahaman yang paliang alamiah dalam usaha mamperoleh penjelasan mengenai objek-objek dan kejadian-kejadian kehidupan nyata.
Walaupun observasi itu bersifat ilmiah, teknik meneliti dengan jalan seperti ini hanya akan berhasil jika guru dapat membimbingnya dan mengajarnya untuk mengamati dengan baik. Observasi langsung tidak boleh hanya dibatasi pada hal-hal tertentu saja, atau hanya menggunakan   mata saja tanpa alat pembantu. Kalau perlu observasi itu harus dibantu dengan mikroskop, teleskop  ataupun  stetoskop. (alat yang digunakan dokter untuk mendengarkan detak jantung). Observasi  merupakan  cara untuk  mendapatkan data atau pengetahuan melalui alat indra, melalui alat indra penerima yang disebut mata, anak mengenal dan memahami jenis-jenis bentuk, warna, jarak, kedalaman dan perbandingan besar kecilnya suatu objek. Melalui telinga anak mengenal berbagai janis bunyi suara. Demikian pula dengan indra lainnya. Oleh karena itu teknik observasi merupakan teknik yang paling penting dalam pelaksanaan karya wisata.
-          Wawancara (interview) dan tanya jawab.
Pada pelaksanaan observasi, sering pula harus  dilengkapi dengan teknik pengumpulan data dan informasi berupa informasi dan tanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran maupun pengetahuan umum.[5]                     
Mengamati  saja sering tidak cukup memberikan kejelasan yang memuaskan si pengamat. Hal itu mungkin saja timbul karena memang tidak memahami apa yang sedang diamati atau karena penjelasan yang diberikan tidak cukup menjelaskan objeknya. Ketidak jelasan mengenai apa yang sedangkan diterangkangkan mungkin disebabkan karena objeknya terlalu asing atau kompleks, menerangkannya terlalu cepat, maka di perlukan wawancara atau tanya jawab dalam hal ini.
-          Diskusi
Dalam diskusi itu biasanya sebagai penyempurnaan  dari pada pengunaan teknik pengumpulan data berupa observasi dan tanya jawab, dapat digunakan teknik diskusi. Melalui diskusi, yang dapat dilakukan ditempat objek guna mematanngkan, memperjelas segala sesuatu yang telah diamati murid-murid selama karya wisata dilakukan.
b)      Manfaat karya wisata sebagai media pembelajaran.
-          Memberikan pengertian yang lebih jelas terhadap pokok masalah atau pembahasan dengan melihat atau mengunjungi benda atau lokasi yang sebenarnya.
-          Membangkitkan dan menumbuhkan rasa cinta dan kesadaran yang tinggi dalam diri pribadi anak terhadap lingkungan dan tanah air sebagai ciptaan Allah.
-          Mempercapat pemahaman siswa, karena langsung datang langsung ke objeknya.
-          Mendorong siswa agar lebih mengenal lingkungan secara baik.
-          Melatih siswa bersikap lebih terbuka, objektif, dan luas pandangan mereka terhadap pandangan luar.
-          Menambah pengalaman, baik itu siswa maupun guru mempunyai kesempatan untuk mempelajari objek dengan jelas.
c.       Kelebihan dan kekurangan karya wisata sebagai media pembelajaran
a)      Kelebihan karyawisata sebagai media pembelajaran:
1)      Menghindarkan terjadinya verbalisme. (Mengetahui katanya tapi tidak mengetahui makna yang terkandung didalamnya).
2)      Memperkaya pengalaman siswa, terutama mengenai objek-objek disekitarnya atau alam sekitar.
3)      Pengubahan situasi mengajar-belajar yang sehari-hari dibatasi empat buah dinding kepada suatu tempat atau situasi yang terdapat dialam terbuka dapat mengembangkan kegairahan belajar dan menyegarkan.
4)      Siswa dapat mengganti pengalaman-pengalaman dengan mencoba turut serta dalam kegiatan.
5)      Siswa dapat mengamati objek ditempat dimana objek itu berada, dalam situasi yang asli.
6)      Siswa dapat mengetahui bagaimana cara mengobservasi suatu objek dengan baik, memupuk kebiasaan mengamati dengan teliti.
7)      Mengembangkan, menanamkan dan memupuk  rasa cinta pada alam dan tanah air.
8)      Menanamkan, mengembangkan dan memupuk keyakinan akan ke-Agungan Allah SWT.
9)      Memiliki prinsip pengajaran modern yang memenfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.[6]
b)      Kelemahan karyawisata sebagai media pembelajaran.
1)      Menghabiskan waktu yang banyak. Padahal jadwal mata pelajaran sudah ditetapkan, sehingga dengan demikian mata-mata pelajaran lain akan dirugikan.
2)      Mengajar murid-murid di alam terbuka lebih sukar dibandingkan dengan di kelas.
3)      Sukar memegang ketertiban dan disiplin mengingat bahwa murid-murid lebih bebas bergerak kesana kemari.
4)      Kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan mengingat murid-murid bebas bergerak dan berkeliaran.
5)      Adanya tambahan pengeluaran uang.
6)      Unsur rekreasi sering menjadi lebih di prioritaskan daripada tujuan utamanya.
7)      Memerlukan koordinasi dengan guru serta  bidang studi lain karena menggunakan waktu yang cukup lama.[7]


C.    Implementasi Bermain Peran dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a.       Pengertian Metode Bermain Peran
Metode bermain peran adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam metode simulasi. Dawson mengemukakan bahwa simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku.
Sedangkan menurut Ali mengemukakan bahwa metode simulasi adalah suatu cara pengajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan.
Pada dasarnya, bermain memiliki dua pengertian yang harus dibedakan. Bermain menurut pengertian yang pertama dapat bermakna sebagai sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari “menangkalah”(play). Sedangkan yang kedua disebut sebagai aktifitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenanga dan kepuasan, namun ditandai dengan adanya pencarian”menang-kalah” (game). Dengan demikian, pada dasarnya setiap aktifitas bermain selalu didasarkan pada perolehan kesenangan dan kepuasan. Sebab, fungsi utama bermain adalah untuk relaksasi dan menyegarkan (refreshing) kondisi fisik dan mental yang berada di ambang ketegangan.[8]
Peran (role) bisa diartikan sebagai cara seseorang berperilaku dalam posisi dan situasi tertentu. Dalam ilmu manajerial, ketidaksesuaian dalam pengenalan peran ditunjukkan sebagai "role conflict" (konflik peran) saran yang tidak konsisten, yang diberikan kepada seseorang oleh dirinya sendiri atau orang lain. Role playing sebagai suatu metode mengajar merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar dan diskusi tentang peran dalam kelompok. Di dalam kelas, suatu masalah diperagakan secara singkat sehingga murid-murid bisa mengenali tokohnya.
Bermain peran memiliki empat macam arti, yaitu:
(1)       sesuatu yang besifat sandiwara, dimana pemain memainkan peranan tertentu, sesuai dengan lakon yang sudah ditulis, dan memainkannya untuk tujuan hiburan;
(2)       sesuatu yang bersifat sosiologis, atau pola-pola perilaku yang ditentukan oleh norma-norma sosial;
(3)       suatu perilaku tiruan atau perilaku tipuan dimana seseorang berusaha memperbodoh orang lain dengan jalan berperilaku yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya diharapkan, dirasakan dan diinginkan;
(4)       sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dimana individu memerankan situasi yang imajinatif.[9]
b.      Kelebihan dan Kekurangan Metode Bermain Peran
Role playing bisa dipakai untuk murid segala usia. Bila role play digunakan pada anak-anak, maka kerumitan situasi dalam peran harus diminimalisir. Tetapi bila kita tetap memertahankan kesederhanaannya karena rentang perhatian mereka terbatas, maka permainan peran juga bisa digunakan dalam mengajar anak-anak prasekolah.
Kesalahan-kesalahan itu bisa menguji beberapa solusi untuk masalah-masalah yang sangat nyata, dan penerapannya bisa segera dilakukan. Permainan peran juga memenuhi beberapa prinsip yang sangat mendasar dalam proses belajar mengajar, misalnya keterlibatan murid dan motivasi yang hakiki. Suasana yang positif sering kali menyebabkan seseorang bisa melihat dirinya sendiri seperti orang lain melihat dirinya.
Keterlibatan para peserta permainan peran bisa menciptakan baik perlengkapan emosional maupun intelektual pada masalah yang dibahas. Bila  seorang guru yang terampil bisa dengan tepat menggabungkan masalah yang dihadapi dengan kebutuhan dalam kelompok, maka kita bisa mengharapkan penyelesaian dari masalah-masalah hidup yang realistis.
Permainan peran bisa pula menciptakan suatu rasa kebersamaan dalam kelas. Meskipun pada awalnya permainan peran itu tampak tidak menyenangkan, namun ketika kelas mulai belajar saling percaya dan belajar berkomitmen dalam proses belajar, maka "sharing" mengenai analisa seputar situasi yang dimainkan akan membangun persahabatan yang tidak ditemui dalam metode mengajar monolog seperti dalam pelajaran.
Walaupun metode ini banyak member keuntungan dalam penggunaannya namun sebagaiman juga metode-metode mengajar lainnya metode ini mengandung beberapa kelemahan diantaranya:
1)               Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan dengan sungguh-sumgguh.
2)               Bermain peran mungkin tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung.
3)               Bermain peran tidak selamanya menujub pada arah yang diharapkan seseorang yang memainkannya. Bahkan juga mungkin akan berlawanan dengan apa yang diharapkannya.
4)               Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankan.
5)               Bermain memakan waktu yang banyak.
6)               Untuk berjalan baiknya sebuah bermain peran, diperlukan kelompok yang sensitif, imajinatif, terbuka, saling mengenal sehingga dapat bekerja sama dengan baik.[10]
c.       Langkah-Langkah Metode Bermain Peran
1)      Guru menyusun (menyiapkan) skenario yang akan ditampilkan.
2)      Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar..
3)      Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang.
4)      Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
5)      Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
6)      Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan.
7)      Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok.
8)      Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
9)      Guru memberikan kesimpulan secara umum.
10)  Evaluasi.
11)  Penutup.[11]
d.      Perencanaan Penggunaan Metode Pembelajaran
Persiapan untuk bermain peran
1)             Memilih permasalahan yang mengandung pandangan-pandangan yang berbedadan kemungkinan pemecahannya.
2)             Mengarahkan siswa pada situasi dan masalah yang dihadapi.
3)             Memilih pemain
4)             Pilih secara sukarela, jangan dipaksa
5)             Sebisa mungkin pilih pemain yang dapat mengenali peran yang akan dibawakannya.
6)             Hindari pemain yang ditunjuk sendiri oleh siswa.
7)             Pilih beberapa pemain agar seseorang tidak memerankan dua peran sekaligus.
8)             Setiap kelompok pemain paling banyak 5 orang.
9)             Hindari siswa membawakan peran yang dekat dengan kehidupan sebenarnya.
10)         Mempersiapkan penonton
11)         Harus yakin bahwa pemirsa mengetahui keadaan dan tujuan bermain peran.
12)         Arahkan mereka bagaiman seharusnya mereka berperilaku.
13)         Persiapan para pemain
14)         Biarkan siswa mempersiapkannya dengan sedikit mungkin campur tangan guru.
15)         Sebelum bermain setiap pemain harus memahami betul apa yang harus dilakukan.
16)         Permainan harus lancar, dan sebaiknya ada kata pembukaan, tapi hindari melatih kembali saat sudah siap bermain.
17)         Siapkan tempat dengan baik.
18)         Kadang-kadang “kelompok kecil bermain peran” merupakan cara yang baik untuk bermain peran.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Metode karya wisata ialah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan membawa murid langsung kepada objek yang dipelajari, dan objek itu terdapat diluar kelas, agar siswa bisa langsung mengetahui langsung bentuk riilnya sebuah objek yang dipelajari.
Karyawisata berarti pergi bekerja. Hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar, pengertian karyawisata ialah siswa akan mempelajari suatu objek ditempat mana objek itu terdapat. Dengan demikian, apa yang disebut dengan bekerja sebenarnya yang dimaksut ialah mempelajari sesuatu. Karya wisata disebut juga metode field trip, metode study tour, metode study trip.
Model pembelajaran role playing merupakan model pembelajaran yang baik untuk digunakan dalam rangka meningkatkan kemampuan bahasa dan sastra Indonesia bagi peserta didik. Selain itu, model pembelajaran ini bisa digunakan mata pelajaran lain. Oleh karena itu, para pengajar dapat menggunakan model pembelajaran role playing ini sebagai model pembelajaran alternatif yang layak dikembangkan untuk mutu proses dan hasil pembelajaran bagi para siswa di sekolah.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, 2009. Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, .Bandung: Refika Aditama Ismail, Andang, 2006, Education Games; Menjadi Cerdas Dan Ceria Dengan Permainan Edukatif, Yogyakarta: Pilar Media.
Hanafiyah dan Cucu Suhana, 2009. Konsep Srategi Pembelajaran, Bandung: Refika Aditama.
Tupik, Muhammad, 2012. Kereativitas Jalan Baru Pendidikan Islam. Mataram:  LEEPPIM, Kunia Salam Semesta.
Umar Muhammad Al-Touny  al-syaebani , 2008. falsafah pendidikan islam, terjemahan Dr. Hasan Langgulung.
Jusuf  Djajadisastra, 1982. Metode-Metode Mengajar.  Bandung: Angkasa.
Roestiyah, 2008. Strategi Belajar  Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta. 
Sudjana, Nana dkk, 1997. Media Pengajaran, Bandung: CV Sinar Baru.
Saiful Bahri dkk, 2010. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Wahab, Aziz, Abdul, 2008. Metode dan Model Mengajar ; Ilmu Pengetahuan Sosial, Bandung: Alfabeta.



[1] Tupik Muhammad, Kereativitas Jalan Baru Pendidikan Islam ( Mataram:  LEEPPIM, Kunia Salam Semesta,  2012). Hlm.171-172
[2] Umar Muhammad Al-Touny  al-syaebani , falsafah pendidikan islam, terjemahan Dr. Hasan Langgulung. (Bandung : Lentera, 2008), Hlm.15
[3] Jusuf  Djajadisastra, Metode-Metode Mengajar, (  Bandung: ANGKASA, 1982 ), hlm. 10
[4] Ibid., hal. 15
[5] Roestiyah  N.K, Strategi Belajar  Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), hlm. 86
[6] Usman dkk, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 53
[7]Saiful Bahri dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), hlm. 94
[8] Andang Ismail, Education Games; Menjadi Cerdas Dan Ceria Dengan Permainan Edukatif, (Yogyakarta: Pilar Media, 2006), hal. 15
[9] Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 77
[10] Abdul Aziz Wahab, Metode dan Model Mengajar ; Ilmu Pengetahuan Sosial, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 109-110
[11] Hanafiyah dan Cucu Suhana, Konsep Srategi Pembelajaran, (Bandung: Refika Aditama,2009), hlm. 47-48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar